Sabtu, 22 Juli 2017

#2017 - 1

Hari itu salah seorang yang dijuluki pahlawan sekolah datang. 
Mereka memakai atasan batik bewarna ungu khas lomba yang mereka jalani. 
Hari itu entah angin darimana dan entah karena alasan apa, menangis menjadi response reflekku.
Mata kami memang tak berpandangan. 
Tepat saat ia berjalan bersama rombongan.
Disambut dengan pasukan marching band sekolah yang meriah. 
Tepuk tangan sorak sorai. 
Ya Tuhan, aku menangis untuk orang itu. 
Hatiku bergetir. 
Tak pernah sebelumnya aku menangis karenanya. 
Aku selalu menguatkan pertahananku. 
Agar tak terlihat bahwa aku seperti cewek-cewek kebanyakan di umurku yang sekarang. 
Aku tak pernah berusaha untuk terlihat ingin mendapatkan perhatiannya. 
Toh pada kenyataannya bahkan aku tidak melakukan sedikitpun usaha untuk memberi tahu dia apabila ada satu rasa yang agak mengganjal di dalam hatiku. 
Sesuatu yang berkaitan dengan dia. 
Sesuatu yang pernah aku rasakan sebelumnya tapi tak pernah sama dengan yang lain. 
Yang ini seperti berbeda dan menggetirkan hati.
Kala itu temanku hanya bisa menawarkan pundak untuk aku menangis. 
Ia bilang aku menangis terharu. 
Katanya pula kalau ia ada di posisiku ia akan menangis pula. 
Merasa bangga. 
Aku tidak tahu ini antara menangis bangga atau menangis karena aku merasa kecewa. 
Aku kecewa pada diriku sendiri, mungkin.  
Apa karena satu doa dari seorang yang tak benar-benar penting bisa merubah segalanya?
Apakah bisa merubah semua kemungkinan? 
Toh, sebenarnya aku bukan yang taat akan ibadah jadi mungkin tidak akan berpengaruh. 
Namun sebagian dari hatiku menyesal tidak memberikan doa seperti yang biasa aku lakukan ketika dia hendak melakukan pertempuran terberatnya. 
Hanya sebuah teriakan semangat saja yang sederhana yang penting niat dan doanya.
Tapi kali itu tak kuberikan. 

Tidak ada komentar: